Senin, 09 Maret 2015

Naik Kereta Api (Comuter Line)



Ada rencana untuk ajak kakak merasakan sarana transportasi yang ada. Kebetulan kakak belum pernah naik kereta api, akhirnya itu jadi target liburan minggu ini "Jalan-jalan Naik Kereta Api".

Waktunya pun tiba untuk ajak kakak naik kereta api tapi untuk kali ini bunda tidak bisa ikutan karena bunda harus ambil Laporan Perkembangan Anak di sekolah kakak hehehe.... (Yang punya LPA malah jalan-jalan).


Naik kereta api kali ini dengan tujuan Bogor, biar jalan-jalannya lebih enak dan lebih lama di kereta, kami naik dari stasiun Jakarta - Kota (BEOS). Dari rumah kami naik kendaraan umum di lanjutkan dengan naik Transjakarta dengan tujuan akhir Halte Busway Jakarta. Turun dari halte busway kami meleati Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) tapi ini bukan jembatan melainkan Terowongan. setelah melewati terowongan dan naik tangga sedikit sampailah kami di Stasiun Jakarta - Kota.

Memasuki Stasiun Kereta kami langsung masuk kedalam antrian untuk memebeli Tiket Ketera Api. Sedikit cerita untuk stasiun ini dan juga sekalian edukasi kakak kalo stasiun itu salah satu stasiun tertua yang ada di Indonesia dan juga semua keberangkatan kereta dimulai dari stasiun ini. Dan stasiun ini juga punya cerita sendiri buat ku. Sekolah ku (SMP dan SMA) letaknya tidak jauh dari stasiun ini. Istilah orang betawi hanya selemparan batu.

Setelah membeli tiket harian berjamin (model pembelian tiket comuter line sekarang) kami memasuki stasiun dan langsung menuju jalur 12 yang merupakan jalur untuk kereta tujuan bogor. Dimana nanti setelah tiba di tujuan tiket ini bisa dikembalikan dan kita akan mendapatkan uang. Atau bisa juga disimpan sebagai cindramata hehehe... Kakak sangat terkesan dengan perjalanan ini, sepanjang jalan banyak pertanyaan yang dilontarkan olehnya dan dengan sabar akupun menjelaskannya. Aku juga sangat kagum dengan layanan kereta saat ini. Interiornya bersih dan pengaturan penumpangnya pun juga baik. Hebat pak jonan...






Senin, 02 Maret 2015

Makan Siang dan Mancing @Mang Ajo, Karawang



Rencananya akan mengantar ibu pulang ke rumah di daerah jatibarang - indramayu. Persiapan (packing-packing) pun sudah dieksekusi oleh bunda dimalam harinya. Sudah 1 minggu ibu mengiap di rumah kami untuk menegok cucu-cucunya yang cantik

Sang Cucu si nenek


Setelah persiapan dirasa cuku kamipun bergerak (kayak pasukan aja....) kami berangkat agak siangan sekitar jam 11 siang dan belum setengah perjalanan (masih di tol Cikampek) perut sudah mengirim sinyal untuk diisi. Akhirnya setelah diskusi sebentar dgn bunda kami belok kiri keluar tol karawang barat menuju rumah makan & pemancingan Mang Ajo.

Sekedar info saja jikalau anda ingin menuju Rumah Makan dan Pemancingan Mang Ajo, anda akan mudah menemuinya. Bila anda memalu Tol Cikampek, anda harus keluar di karawang barat, dan anda  hanya lurus saja kurang lebih 2 km anda akan sudah bisa melihat dengan jelas Plang Nama tempat tersebut. Posisinya ada di sebelah kanan jalan.

Di rumah makan Mang Ajo itu ada 2 tempat parkir, yg pertama di area luar/depan letaknya dipinggir jalan dan yg kedua ada dibagian belakang rumah makan itu. Kami memilih tempat parkir yang ada dibelakang dimana parkiran tersebut cukup teduh. Memasuki area rumah makan, anda akan melihat kolam-kolam ikan besar yang banyak dan dikelilingi oleh saung-saung kecil.

Ternyata kolam ikan itu dibedakan menurut jenis ikan yang ditanam, ada kolam ikan mas dan kolam ikan nila jadi anda harus memilih saung yang dipinggir kolam ikan yg mana untuk memancing. Kami pun memilih saung yang agak rindang dan dekat permainan anak-anak.

Untuk urusan menu, jadi urusan bunda dan nenek. Ikan Gurame Asem Manis, Karedok, Tempe Penyet, Tempe Mendoan, Tahu, Pepes Ikan Mas, Sayur Asem dan Pete (menu istimewa) jadi pilihan makan siang kami. Dan tidak lupa es kelapa mudanya.


Makan siang @Mang Ajo, Karawang
Mancing Mania hehehe @Mang Ajo, Karawang
 
 Mancing Mania hehehe @Mang Ajo, Karawang

 

Selasa, 09 Desember 2014

Pengecoran Jalan Raya Bougenville 11 - Graha Bagasasi #1

Siapa yang tidak ingin lingkungan rumahnya menjadi bersih, rapih, indah dan resik. dengan infrastruktur jalan yang baik, tidak becek dan aman untuk bermain anak-anak jadi penambah keindahan dan kenyamanan si penghuni lingkungan itu. Namun kondisi itu tidak didapatkan dilingkungan kami, setelah bermukim hampir 8 tahun kondisi jalan lingkungan makin lama makin memprihatinkan.

Jalan lingkungan kami tidaklah terlalu lebar dan bagus, namanya juga jalan di perumahan sederhana. Dengan lebar jalan 5 meter dan panjang kurang lebih 96 meter serta dialasi lapisan aspal entah kelas berapa, kondisinya sudah mulai rusak. Dan juga kepedulian warga yang kurang terhadap lingkungan dengan membangun pagar ataau garasi melewati batas yang ditentukan menjadi pemincu rusaknya jalan yang ada.

Berawal dari keluh kesah dan obrolan di malam hari, akhirnya warga berembuk dan bersepakat untuk memperbaiki jalan yang rusak dengan cara di cor beton dimana seluruh biaya pembangunan ditanggung bersama alias saweran. Kesapakatan itu di lakukan pada malam hari di rumah Pak Zainal Abidin yang didaulat menjadi koordinator pembangunan jalan. 

Seluruh biaya yang menjadi kebutuhan pembanguan jalan dihitung dan menjadi beban bersama yang nantinya akan setorkan kepada koordinator pembangunan jalan. Penarikan/setoran saweran ini dikoordinir oleh Om Anton yang juga didaulat untuk mengelola keuangan pembangunan jalan ini. Hampir satu tahun penarikan saweran berjalan, setelah dihitung kembali dan disesuaikan dengan dampak kenaikan BBM ternyata ada kekurangan biaya. Untuk menutupi kekurangan tersebut kami mencoba untuk mengajukan Proposal kepada Developer Perumahan. Ternyata niat baik kami dalam pembangunan jalan ini disambut baik oleh Developer, pihak developer akhirnya menggelontorkan dana hibah yang lebih dari 50% dari biaya yang kami ajukan. 

Dalam proses penarikan saweran pembangunan jalan ini juga tidak bisa dikatakan mulus, masih saja ada halangan rintangan yang harus dilalui. Walaupun kesepakatan sudah diambil sejak awal namun apresiasi belum bisa dikatakan maksimal, itulah kekurangaan yang ada kalo proyek swadaya hehehehe.... 

Inilah kondisi jalannya yang rusak



Kamis, 06 Juni 2013

Sejarah Sepeda Lipat

Seli tak akan muncul jika sepeda tak diciptakan. Ahli sejarah mungkin tak akan pernah bisa mengidentifikasi kapan sepeda diciptakan. Beberapa orang mengklaim, Leonardo Da Vinci menciptakan sepeda berdasarkan sketsa yang ditemukan di Codex Atlanticus. Meski sketsa ini dinyatakan palsu, Da Vinci masih disebut sebagai pencipta sepeda.Sebelumnya, terdapat beberapa ‘pra-sepeda’ (PS) yang diciptakan sebelum sepeda muncul. PS pertama mungkin adalah ‘celerifere’ yang dikembangkan orang Prancis bernama Mede de Sivrac pada 1790.

PS terdiri dari dua roda yang terhubung besi yang dirancang seperti kuda atau singa.Tak ada mekanisme menyetir atau pedal pada PS yang biasa digunakan untuk menghibur orang kaya ini. Pada 1818, Baron Karl Von Drais dari Jerman menunjukkan ‘Draisienne’ di Paris namun PS ini masih tak memiliki pedal. Pada 1860, Ernest Michaux dan adiknya Piere menambahkan pedal pada roda depan dan disebut ‘Velocipede’.

Pada 1885 saat teknologi sepeda Inggris maju, ‘sepeda biasa’ muncul. Ada persaingan mengakui seli dan semuanya mendokumentasikannya dengan sangat meyakinkan. Terdapat beberapa dokumen hak paten yang merujuk pada ‘tricycle’ dari 1880 dari perusahaan Bayliss Thomas di Inggris dan Pope Manufacturing Company di Amerika Serikat (AS). Pria Inggris William Grout diyakini sebagai penemu seli di 1878 namun kemudian temuannya berupa roda depan lipat dan rangka yang bisa dibongkar membuatnya lebih dikenal sebagai sepeda ‘portabel’.

Pada 1980, dua peristiwa signifikan sejarah seli terjadi. Pertama, Andrew Ritchie mulai memproduksi seli Brompton di 1981.Kemudian di 1982, Dr David Hon mulai memproduksi seli Dahon pertama.

Kedua merek ini sangat terkenal hingga kini. Dahon menjadi pembuat seli terbesar dunia dengan penguasaan pasar 60%. Seli pertama Hon disebut ‘Da Bike’. Seiring waktu, popularitas seli makin dikenal terutama di Eropa, Asia dan kota besar AS.

Saat ini terdapat lebih dari 100 pembuat seli dan jumlahnya terus bertambah. Kesimpulannya, sejarah seli relatif nyata dan tak sepenuhnya komprehensif karena akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Sumber : inilah.com, jumat 23 Maret 2012

Senin, 15 April 2013

Gowes Cibarusah - Gunung Solasih


Mencoba untuk kesekian kalinya ke Gunung Solasih akhirnya kesampaian juga. Dengan rombongan yang berbeda kucoba untuk mengulang jalur yang pernah dilalui beberapa waktu yang lalu.

Berkumpul ditempat biasa sebelum bergerak ke arah Cibarusah, dengan jumlah 7 goweser. Dari Cibarusah mengarah ke Mengker dan berencana pitstop di Gekbrong sambil sarapan pagi dengan nasi merah. Suasana di Gekbrong sangat memanjakan kami tidak terasa 1 setengah jam kami disana. Istrirahat yang cukup panjang.

Dari Gekbrong kami lanjutkan perjalanan menuju Ds. Sukadamai. Perjalanan dari Gekbrong ke Ds. Sukadamai ini mempunyai kontur naik-turun bagi yang ingin mencoba ketahan gowes silahkan mencoba jalur ini. Berhenti sejenak di depan kantor desa Sukadami untuk mendinginkan dengkul yang mulai sedikit panas dan juga menunggu teman yang masih dibelakang, mencoba untuk melongok jalan yang akan dilalui ternyata tanjakan didepan sudah menanti. Wuih....


Blusukan di Desa Sukadamai selesai juga dengan menikmati tanjakan-tanjakan pendek yang cukup terjal akhirnya tiba juga diujun jalan desa yang akan memasuki Gn. Solasih. Panas sudah mulai terasa kerindangan di daerah ini agak susah, susah mendapatkan pohon besar untuk berteduh dan trek dijalan ini sudah tidak terlihat karena ditutupi ilalang yang tinggi.









Senin, 08 April 2013

Gowes Cibarusah - Jonggol Farm


Banyak yang ngajakin gowes jadi bingung milihnya, akhirnya milih gowes bareng teman lama dari Mutiara Bekasi. Kumpul ditempat biasa Ruko MBJ jam 6 pagi dilanjutkan mencari sarapan di Pasar Jonggol. Selesai sarapan dicampur ngobrol sedikit akhirnya perjalanan dilanjutkan kearah Pasar Dayeuh.

Dari Pasar Dayeuh kami belok kanan, baru belok saja kami sudah disuguhi tanjakan yang terjal. Karena baru berapa sarapan jadi tenaga masih terkumpul banyak dan semua bisa melahap tanjakan dengan lancar.

Aku tidak tau nama daerah ini, namun daerah sangat asri sekali seperti dirawat. Dan jalur ini menyuguhkan tanjakan yang fantastis, jalan tanah yang becek karena malamnya habis diguyur hujan. Dan bisa dipastikan akselerasi yang dihasilkan juga tidak optimal. Hampir sebagian tanjakan dilewati dengan TTB karena jalan becek serta ban jadi donat.






Setelah ber-TTB ria kami melewati sebuah sungai kecil, disini kami bersistirahat sejenak untuk membersihkan ban yang sudah menebal karena tanah.  Dari titik ini kami lanjutkan perjalanan dan jalan sudah mulai dicor. Jalan ini akan tembus ke arah kantor desa Cibodas. Dari kantor Cibodas dengan melalui jalan Muhamad Bahri kami lewati dengan kecepatan lumayan karena jalanan menurun hingga tanjakan "kebo modol".

Setelah meng”hatam”kan tanjakan "kebo modol" kami berhenti sejenak disebuah warung untuk mengganti cairan yang hilang di tanjakan tadi. Sekaleng minuman pengganti ion habis kutenggak disertai dengan ngemil 2 bungkus coklat. Dari belakang warung ini kulewati jalan setapak yang berakhir di peternakan kambing etawa "jonggol farm". Di peternakan ini kami berhenti agak lama untuk menikmati suasana peternakan kambing dan minum susu kambing etawa yang berkhasiat itu.





Inilah garis finish yang diharapkan, jalur  dengan kombinasi jalan aspal dan jalan tanah yang seimbang serta tanjakan dan turunan yan "adil" dan diakhir dengan segelas susu kambing etawa yang segar. Sungguh nikmat gowes kali ini.


Senin, 01 April 2013

Gowes Cibarusah - CFD @Jakarta

CFD atau Car Free Day sudah cukup lama diterapkan di Jakarta setiap hari Minggu. Kali ini aku coba janjian dengan teman-teman yang ada di Jakarta untuk ketemuan di CFD dengan meeting point di Gapura Bali Polda Metro Jaya.

Seperti biasanya sebelum berangkat aku persiapan semua kebutuhan gowes, koq kayanya repot banget mo gowes aja, memang sih agak repot karena sekarang ini salah satu gowes jauh alias AKAP, karena gowesnya Cibarisah - Jakarta. Setelah sholat subuh pkl 04.50 WIB aku berangkat menuju Jakarta dengan jalur Cibarusah - Psr. Serang - EJIP - nyeberang getek - MM2100 - Kalimalang - Cawang - Gatot Subroto - Polda Jaya.

Jam di smartphoneku menunjukkan 07.30 WIB dan ternyata aku harus bergeser ke HI karena temanku sudah bergerak kesana terlebih dahulu. Akhirnya ketemu juga dengan teman yang udah nyampe duluan dan setelah beristirahat dan sedikit ngobrol ngalor ngidul kami bergeser ke pasar kaget yang ada disekitar HI hunting stiker bernuansa sepeda.

Matahari beranjak naik, panaspun sudah mulai terasa. Ternyata sudah siang juga waktu menunjukkan 10.30 WIB waktu untuk pulang. Jalur pulang sengaja kubuat berbeda, aku casablanca terus ke arah pasar gembrong dan aku coba menyusuri jalur sepeda yang ada di BKT. Lalu kuteruskan kearah Pondok Kelapa - Kalimalang. Di Pondok Kelapa ini aku istirahat sejenak untuk menikmati 2 gelas es kelapa muda yang mudah-mudahan dapat menggantikan cairan yang hilang sebelumnya.

Dari Pondok Kelapa aku mengarah ke Jatibening lanjut ke arah Jatiasih dan keluar di jalan Narogong. Dari jalan Narogong ini aku belok kiri ke arah Bantar Gebang lalu ke arah Setu. Dari Setu aku telusuri jalan ke arah Cibening. Dan dari Cibening ini aku susuri jalan seperti biasa saat ku berangkat kerja (jalur alternatif).

Gowes kali ini benar-benar ujian, 100% jalan yang dilalui adalah jalan beraspal (onroad). Panas bukan hanya datang dari atas namun juga dari pantulan jalan sehingga tenaga yang terkuras benar-benar tidak terhingga. Jam 2 siang akhirnya aku tiba dirumah.

 @Kawasan Industri MM2100



@Banjir Kanal Timur

Segelas Es Kelapa Muda pelepas dahaga